Sesal

89

Dilihat

Namaku Budi Firdaus Al-Arief. Aku memiliki sahabat karib, Erik von Yasin. Seorang Blasteran Jerman-Indonesia. Wajah bule rupawan dengan aksen Jerman yang kental menjadi ciri khasnya. Kami telah bersahabat sejak awal masuk MTs.

Pagi datang mengantarkanku ke sekolah dengan perasaan membuncah senang. Langkahku seringan kapas, terbang melayang menuju kelas. Tadi malam, wali kelasku memberitahukan melalui pesan whatsApp bahwa aku akan mewakili Indonesia dalam kejuaraan MIPA Internasional di Berlin, Jerman. Aku bergegas masuk kelas mencari sahabatku. Akan kukejutkan dia dengan berita baik ini. Kulihat dia sedang menekuni buku yang terbuka lebar di depannya.

“Selamat pagi. Rik. Aku ada berita baik, nih. Tadi malam Bu Maya menghubungiku. Aku terpilih untuk mewakili Indonesia dalam kejuaraan MIPA Internasional. Aku seneng banget, Rik!” Ujarku tersenyum.

“Pagi juga, Bud. Wah, beneran? Alhamdullillah kalau begitu, aku ikut senang! Selamat, ya. Kamu keren banget!” Mata Erik berbinar bahagia.

Keesokan harinya, aku mulai menjalani pelatihan di tempat karantina untuk persiapan kejuaraan. Sebelum menjalani pelatihan, aku menyempatkan diri menemui Erik di kantin.

“Rik, doakan aku, ya. Sesibuk apapun, aku akan mengabarimu. Aku janji.”

“Siip, pastilah. Kamu telah berjanji, loh. Pegang kata-katamu. Dan ingat, jika kamu melanggar janjimu, nanti kamu yang akan menyesal” Jawab Erik serius.

“Haha… Iya, Rik. Iya,” Kami berdua tertawa. Aku tidak menganggap serius perkataan Erik. Setelah itu aku bergegas pergi ke tempat karinta pelatihan.

Pelatihan kujalani selama 2 bulan. Erik terus memotivasiku mempersiapkan diri dalam menghadapi kejuaraan melalui pesan-pesannya. Semua dilakukan dengan tulus agar aku bisa memenangkan kejuaraan itu. Aku sangat bersyukur bisa memiliki sahabat seperti dia. Ia seperti seorang penasehat spiritual yang keren bagiku saat aku sedikit kehilangan gairah belajar.

Akhirnya hari keberangkatanku ke Berlin tiba. Erik memberikan sepucuk surat yang dimasukkan ke dalam amplop putih.

“Apa ini, Rik?” Aku menatap penuh tanya.

“Oh, itu adalah puisi. Aku sempat meminta bantuan dari seorang kakak kelas 9 untuk membantuku membuat sebuah puisi untukmu yang akan ikut lomba. Bukalah nanti jika kamu menang ataupun kalah.” Jawab Erik tersenyum. Kami pun lalu bersalaman.

Hari demi hari kujalani di Berlin dengan penuh kesibukan. Pada awalnya, kami masih saling mengabari satu sama lain. Namun semakin lama, aku semakin sibuk layaknya pekerja kantoran. Sehingga aku tidak memiliki waktu untuk mengabari Erik. Erik yang menyadari hal ini merasa kecewa karena janjiku tidak kutepati.

Sementara itu, aku berhasil masuk ke babak final. Di babak final nanti aku akan melawan peserta dari Jepang. Sehari sebelum babak final, aku sempat mengabari Erik bahwa aku berhasil masuk babak final. Namun, Erik tidak memberikan respon. Jangankan membalas balik pesan itu, ia sama sekali tidak membaca pesan yang kukirim. Aku mulai merasa ada yang salah. Namun kuputuskan untuk mengabaikannya. Hingga pada babak final. Aku berhasil meraih juara pertama. Aku sangat bersyukur karena aku berhasil mengharumkan negaraku, khususnya nama sekolahku di ajang Internasional.

Pada hari yang telah ditentukan, aku dan tim kembali ke Indonesia. Aku pulang dengan perasaan bangga dan bahagia. Aku tak sabar untuk menceritakan ini semua kepada Erik. Saat kembali ke sekolah, tidak kutemukan Erik di kelas. Bahkan saat di lapangan upacara dan Kepala Madrasah memberikan penghargaan, aku masih tidak melihat Erik. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati, “Ke mana Erik? Apakah dia sakit? Mengapa tidak mengabariku?”

Saat di kantin, aku dihampiri oleh Fardhan, ketua kelasku. Ia juga teman dekat Erik. “Kenapa, Dan?” Tanyaku.

“Gue seharusnya bilang tadi, tapi Gue lupa. Ini mengenai Erik.” Fardhan berkata ragu.

“Erik? Kenapa dengan Erik? Mengapa dia tidak masuk? Apakah dia sakit?” Tanyaku sedikit panik.

“Erik udah gak masuk sejak dua hari yang lalu. Katanya ia dirawat di RSUD sebelah sekolah.” Jawab Fardhan. Betapa terkejutnya aku mendengar kabar itu. Aku tidak menyangka bahwa sahabatku jatuh sakit. Aku merasakan kesedihan yang mendalam, wajahku pucat seketika.

“Loe lebih baik ke RSUD, deh. Kan, Loe best friendnya.” Fardhan sedikit mendesak.

“Oke, deh. Makasih ya, Dan” jawabku dengan suara yang lirih.

Pulang sekolah, aku bergegas menuju ke rumah sakit. Di meja repsesionis, aku disambut oleh wanita cantik yang memakai seragam putih-putih dengan topi kecil yang juga berwarna putih di atas kepalanya.

“Mencari siapa, Dek?” Wanita itu bertanya.

“Eh! Selamat siang, Sus. Saya mencari ruang perawatan sahabat saya yang bernama Erik von Yasin,” jawabku cepat. W anita berseragam itu mencari nama Erik von Yasin di komputer.

“Pasien atas nama Erik von Yasin berada di ICU dan tidak boleh dijenguk,” ujar wanita itu.

“Terimakasih, Sus” jawabku lirih. Setelah itu, diam-diam aku bergegas menuju ruang ICU. Selama perjalanan ke ruang ICU, rasa takut dan bersalah menghantui diriku.

“Kenapa Erik bisa berada di ruang ICU? Apa Erik baik–baik saja selama aku ada di Berlin? Apa ini semua karena aku? Bagaimana keadaannya?” Pikiran itu terus menghantui. Pikiranku carut-marut. Tanpa sadar, aku hampir tertabrak salah satu pasien karena tidak fokus. Akhirnya, aku sampai di depan ruang ICU. Seorang wanita duduk bersimpuh di kursi luar ruangan. Wanita itu terlihat sangat sedih, wajahnya kuyu. Ia menunduk dengan dengan bahu yang bergerak-gerak, suara isakan lirih terdengar. Mendengar suara langkah, wanita itu mengangkat wajahnya dan memandang ke arahku. Ia menatapku nanar, senyuman sedih tersungging di bibirnya yang bergetar pucat. Dia melambaikan tangannya padaku. Aku perlahan mendekat.

“Kamu Budi, kan? Ayo ke sini, Nak,” suara halus memanggilku. Wanita berumur 40-an yang masih terlihat cantik itu mengenakan gamis hijau dan hijab berwarna kuning. Tas tangan hitamnya teronggok begitu saja di bawah kakinya. Ia menatapku dengan tatapan lembut.

“Kenapa, Tante?” Tanyaku.

“Kamu sahabatnya Erik ya, sini duduk,” katanya sambil menunjuk kursi di sebelahnya. Aku mengangguk dan meletakkan bokongku di sana.

“Saya Mommy Erik. Erik dari seminggu yang lalu terlihat down. Entah apa yang terjadi. Tante ajak bicara pun dia tidak merespon. Sampai dua hari yang lalu, Erik tertabrak mobil saat pulang sekolah. Sangat parah. Erik gegar otak berat dan tulang rusuknya menusuk paru-paru kiri. Sampai sekarang, ia dirawat intensif di ICU dan belum juga sadar,” Mommy Erik menahan tangis.

Mendengar penjelasan Ibu Erik. Aku syok berat. Ternyata Erik tertabrak mobil di hari babak finalku di Berlin. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang membuat Erik begitu down sehingga berakhir seperti ini. Kemudian, aku teringat dengan janji saling mengabari walaupun saat sibuk dengan Erik. Aku sangat menyesal tidak memenuhi janji itu. Tangisanku pecah. Mommy Erik juga ikut menangis. Aku berusaha untuk masuk ke dalam Ruang ICU. Namun dilarang oleh perawat yang menjaga. Aku semakin sedih karena tidak bisa melihat sahabatku yang sedang terbaring lemah di bangsal rumah sakit untuk menemaninya.

Aku pulang dengan rasa bersalah. Rasanya, semua mata menudingku sebagai sahabat yang ingkar janji. Semua menyalahkanku atas apa yang terjadi pada Erik. Perasaan sedih, marah, dan putus asa menghantui diriku. Aku kembali teringat ucapan Erik beberapa waktu lalu. “jika kamu melanggar janjimu, kamu pasti akan menyesal”

Aku menangis sejadi-jadinya. Aku sangat menyesal. Telah melanggar janjiku. Kesedihanku semakin bertubi-tubi setelah aku mengingat bahwa Erik, meskipun periang, namun memiliki mental yang lemah. Aku merasa, akulah yang melukai Erik secara tidak langsung. Pikiranku sangat kacau sepanjang malam hingga tidak bisa tidur. Keesokan harinya, aku mendapat kabar dari Mommy Erik bahwa Erik meninggal dan gagal diselamatkan. Sesal. Itulah kata yang kurasakan pada saat mendengar kabar meninggalnya Erik. Aku menyesal melanggar janjiku, aku menyesal tidak melihatnya untuk terakhir kali, aku menyesal karena gagal menjadi sahabatnya. Saat itu, aku berharap semua ini adalah mimpi. Namun, semua sudah terjadi. Aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa.

Setelah pemakaman Erik, aku didatangi oleh salah satu kakak kelas 9.

“Dek, bisa bicara sebentar?”

“Boleh Kak, ada apa?”

“Saya Ghazali, yang membantu menulis puisi Erik, katanya puisi itu untuk kamu, ya?” Aku terdiam, seketika teringat dengan puisi yang pernah Erik berikan kepadaku.

“Oh, iya Kak. Saya emang belum baca, tapi saya bawa kertasnya.” Aku pun merogoh tasku dan mengambil sepucuk surat yang sudah lecek tertimpa barang dalam tasku.

“Bacalah, Dek.” Ghazali menyuruhku untuk membaca surat itu. Aku pun membacanya

Budi, Jika kamu menang, bersyukurlah. Aku ikut senang atas keberhasilanmu.

Budi, Jika kamu kalah, terimalah kekalahannya. Aku mengapresiasi keberanianmu mengikutinya.

Budi, Aku tahu kamu akan ingkar janji. Karena kamu memang teledor sejak awal. Namun, aku maafkan semua kesalahanmu karena jika aku marah, maka kerugian yang menghampiri kita.

Budi….

Terimakasih karena telah mengisi hari-hari yang sepi dalam hidupku.

Aku menangis saat membaca kertas kumal itu. Aku tidak menyangka bahwa Erik masih bisa memaafkanku di saat aku melanggar janjiku sendiri.

“Waktu dia buat puisi, dia sempat bilang ke saya, bahwa sejengkel apapun Erik terhadap kamu, ia tetap menganggap kamu sahabat terbaiknya” ungkap Ghazali kepadaku. Tangisanku pun pecah. Aku sungguh menyesal. Kecerobohanku membawa pada akhir persahabatanku dengan Erik. Sebelum meninggalkan pemakaman, kutinggalkan piala di sebelah nisan Erik. Sebagai penghormatan terakhirku padanya.

Lima tahun sejak peristiwa itu, aku masih memiliki rasa bersalah dan penyesalan mendalam atas kematiannya. Kutulis cerita ini, agar tidak ada lagi orang yang kehilangan sahabat karena kecerobohannya.

Penulis : Athaya Sakha Danendra
Editor : Eti Muhamad, M.Pd

Info
Penulis :
Tanggal : 31 January 2023
Pembaharuan : 31 January 2023
Bagikan halaman ini
Tags