Sebuah Simbol Bernama Kinanti

113

Dilihat

Sabtu pagi, semua orang memilih untuk melanjutkan tidurnya, sementara aku harus bersiap-siap untuk ke toko buku bekasku. Jarak toko buku dari tempat tinggalku cukup dekat, sekitar satu kilometer. Aku berjalan kaki menuju ke sana. Kurang lebih tiga puluh menit aku sampai di depan toko buku bekasku. Keseharianku menjadi penjaga toko buku bekas bisa cukup membosankan. Biasanya aku hanya membaca buku, merapikan tumpukkan buku, dan sesekali membaca koran-koran lama yang lebih menarik perhatianku dibandingkan dengan koran-koran keluaran terbaru.
     Aku suka membaca buku sejak remaja karena orang tuaku kerap mengajak untuk mengunjungi perpustakaan nasional setiap akhir pekan. Menjaga toko buku bekas seperti ini sebenarnya bukan pekerjaan utamaku, aku memiliki kerjaaan lainnya. Penulis kesukaanku adalah Nirmala Poetri, aku seringkali terpana dengan cerita yang ditulisnya. Zaman sekarang banyak orang yang lebih tertarik pada buku keluaran terbaru dan kurang tertarik pada buku-buku lama seperti yang dijual di toko bukuku, sehingga toko bukuku sepi pengunjung. Namun, ada seorang wanita paruh baya yang rajin berkunjung ke toko bukuku. Aku tahu betul wanita itu, karena beliau sangat sering berkunjung. Namanya Ibu Marni.
Ibu Marni, lahir di Surakarta pada pertengahan tahun 1967. Kini usianya mendekati 57 tahun. Meskipun begitu, belum ada sehelaipun rambut putih hinggap di kepalanya, tidak seperti kebanyakan orang. Postur tubuhnya tegak, senyum manis, juga bola mata yang berwarna coklat menjadi ciri khas Bu Marni. Beliau tinggal di sebuah rumah yang tidak terlalu besar namun sangat nyaman untuk dihuni. Rumahnya terletak di sebuah komplek perumahan lama di daerah Jakarta Pusat. Ia selalu mengunjungi toko setiap akhir pekan. Setiap datang wajahnya selalu terlihat antusias. Hal yang aku suka terhadap beliau adalah keramahannya terhadap orang di sekitarnya. Ia juga selalu bergaya modis. Kupikir dia memiliki selera berpakaian yang bagus. Sore hari Bu Marni kembali berkunjung ke toko. Kami berbincang kecil.
     “Kamu baca buku itu emangnya ndak bosan, Nduk?” sapa Bu Marni yang hendak membayar buku yang ia beli. Aku tersentak kaget. “Oh! Maaf, aku gak lihat ada orang.”
     “Tidak apa-apa,” katanya seraya meletakkan dua buah buku yang hendak ia beli di meja kasir
    “Wah di mana ibu menemukan semua ini? Aku lupa kalau punya stok buku-buku ini.” Kataku heran. Itu buku-buku karya Pramoedya Ananta Toer, berjudul ‘Mangir dan Arus Balik’.
    “Aku menemukan ini semua di rak atas sebelah kanan, sepertinya kamu harus periksa dan susun buku-bukumu yang ada di sana.” Kata Bu Marni tersenyum. Apa yang dikatakan Bu Marni benar adanya. Terakhir aku merapikan toko ini sekitar dua minggu yang lalu, itupun hanya sebagian. Setelah pembayaran selesai, ia berpamitan karena hendak mengurus sesuatu.
     Setelah toko tutup, aku berencana akan mengunjungi rumah Oma dan berjanji pada sepupuku untuk menginap karena esok hari libur. Pukul 5 sore, aku sudah berada di stasiun MRT Blok M. Sambil menyesap segelas coklat panas, aku menunggu bus tiba. Tak berapa lama bus yang kutunggu tiba. Aaku segera naik dan mencari tempat duduk yang kosong. Dua puluh menit berlalu, aku sampai di stasiun Dukuh Atas. Rumah Oma berada di wilayah Tanah Abang sehingga aku harus berjalan selama beberapa menit untuk sampai di sana. Oma sedang menyiram tanaman-tanaman kesayangannya yang ditanam di halaman rumah.
      “Sore, OMA HAN!” sapaku bersemangat.
     “Ya ampun Kinan sayaaang! Kamu ke sini gak ngabarin oma dulu.” Oma menghentikan aktivitasnya dan segera membuka pagar rumahnya agar aku bisa masuk. Aku segera mencium pipi kiri dan kanan oma yang menyambutku dengan melebarkan kedua tangannya untuk mendekapku. Omaku bernama Hannie Doortje. Ia keturunan Jawa-Belanda. Aku bergegas masuk karena mencium sesuatu yang membuat perutku berteriak ingin memakannya. Poffertjes, makanan penutup khas Belanda yang menjadi favoritku sejak kecil. Di meja makan sudah ada seseorang yang menikmati hidangan tersebut.
     “Be, makan gak ngajak-ngajak, lo.” Benjamin Abbe Coen, sepupuku yang tinggal di rumah oma bersama ibunya karena orang tuanya bercerai 10 tahun yang lalu.
      “Buruan makan gih, enak banget baru mateng.” Ucapnya seraya menyuap satu butir poffertjes ke dalam mulutnya. Aku segera duduk dan menikmati makanan kesukaanku itu, “Poffertjes buatan Oma emang terbaik sih,” ujarku. Abe mengangguk setuju.

     Malam Minggu, malam paling ditunggu di antara tujuh hari dalam seminggu. Aku dan sepupu-sepupuku berjanji akan berkunjung ke sebuah Café di tengah ibukota untuk sekadar mengobrol dan menikmati hari libur. Beberapa menit kami mengobrol aku melihat seorang perempuan yang tidak asing di mataku, Bu Marni. Ia duduk di meja yang tidak terlalu jauh dari meja yang aku dan para sepupuku tempati. Aku mengurungkan niatku untuk menyapanya karena penampilannya sedikit berbeda dari biasanya. Dia terlihat menatap laptop bersama seorang lelaki yang kurasa merupakan rekan kerjanya. Pukul 21.00 WIB kami pulang ke rumah oma karena kami akan menginap di rumah oma. Kebetulan esok hari libur. Sepulang dari café, kami segera beristirahat agar tubuh kami Kembali fit esok harinya.

     Pagi hari tiba, sang mentari sudah bangun dari tidurnya. Suara ayam kate di samping rumah oma berkokok merdu membangunkanku dari tidur lelap. Aku melihat oma sedang menyiram tanamannya di halaman rumah. Aku menghampirinya dan takjub dengan udara pagi di tempat ini. Kuhirup nafas dalam-dalam merasakan segarnya udara pagi ini.
     “Pagi, Oma.” Sapaku.
   “Pagi Kinan, tidurnya nyenyak?” Oma bertanya kepadaku. Aku hanya bergumam dan menganggukkan kepala guna membalas ucapan oma. Aku sebenarnya masih mengantuk tapi entah kenapa aku tidak bisa tidur lelap.
    “Kamu ndak jogging sama yang lain?” tanya oma. Salah satu kegiatan yang cukup rutin aku lakukan adalah jogging. Minggu pagi adalah hari yang paling cocok untuk melakukan aktivitas ini.
    “Iya Jogging kok, paling bentar lagi nunggu yang lain bangun.” Kataku. Aku tidak tega membangunkan para sepupuku karena mereka terlihat sangat lelap. Kini, aku hanya termenung sembari duduk di sebuah batu besar yang terletak di halaman belakang rumah Oma.
    Tak sadar pikiranku melayang tentang keluargaku. Aku merupakan anak tunggal jadi terkadang merasa kesepian. Itulah yang menyebabkan aku cukup sering mengunjungi rumah Oma. Rumahku sangat sepi karena mama adalah seorang wanita karier pekerja keras. Mama sering dinas ke luar kota atau bahkan luar negeri, sehingga aku memutuskan untuk tinggal seorang diri di sebuah rumah yang lokasinya cukup strategis. Ayahku meninggal dunia saat aku berusia lima tahun. Aku tidak terlalu dekat dengan keluarga ayah sehingga sejak kepergian ayah untuk selamanya, aku dan mama lost contact dengan keluarga ayah. Beberapa bulan sebelum ayah meninggal, eyang putri yang saat itu berusia empat puluh lima tahun tiba-tiba ikut menghilang entah ke mana. Keluarga ayah sudah mencarinya tapi tidak ada yang menemukan keberadaannya. Bahkan mereka sudah melaporkan kepada polisi, tetapi polisi pun tidak kunjung menemukan hingga akhirnya kasus tersebut resmi ditutup.
    Suara riuh menyadarkanku dari lamunan panjangku tentang keluarga. Para sepupuku akhirnya bangun. Pukul 07.00 kami jogging mengelilingi komplek perumahan Oma. Lima putaran kami lalui sampai kami sudah cukup lelah. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke rumah Oma. Saat sampai di rumah Oma, mataku menangkap sesuatu yang berbeda di rumah tetangga sebelah. Biasanya rumah itu selalu terlihat kosong tidak berpenghuni, tapi sekarang terlihat ramai. Karangan bunga dan bahkan mobil ambulans terparkir di depan gerbangnya. Jantungku berdetak cepat, kepala cantikku bertanya-tanya apa yang terjadi?
     Sebenarnya aku bukan orang yang mudah penasaran dengan segala hal, tetapi kali ini aku sangat ingin tahu apa yang terjadi di rumah sebelah. Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada Oma.
     “Oma Han, kok di rumah sebelah rame banget, ada apa?” tanyaku kepo.
     “Loh, rumah Bu Marni ya? Oma kurang tau soalnya dia jarang di rumah. Orangnya juga agak tertutup.” Kata Oma Han.
Seketika aku terdiam. Rumah Bu Marni? Apa yang terjadi padanya? Ternyata Oma mengenal Bu Marni? Banyak sekali pertanyaan di otakku yang kecil ini.
    Hari ini Senin, aku tidak membuka toko. Aku ingin beristirahat sejenak. Sebetulnya aku masih kepikiran tentang rumah Bu Marni kemarin. Aku menyalakan televisi agar tidak terlalu sepi. Kemarin aku mendengar berita bahwa penulis kesukaanku, Nirmala Poetri telah merilis buku terbarunya yang berjudul ‘Sebuah Simbol Bernama Kinanti’. Aku sudah memesan buku itu dan perkiraan buku itu sampai sekitar dua minggu lagi. Sayup terdengar suara pembaca berita, Berita duka dari seorang penulis legendaris, Nirmala Poetry. Beliau meninggal dunia kemarin pukul 05.00 pagi akibat penyakit kanker darah yang dideritanya. Terkuak nama asli sang legenda, Diajeng Nirmala Poetri Bhanuresmi.
     Berita itu membuat tubuhku membeku seketika. Apa yang barusan aku dengar? Nirmala Poetri? Bahkan buku terakhirnya belum sempat aku baca. Ini terlalu mendadak. Dan juga…Bhanuresmi? Itu nama belakang ayahku. Sebentar aku teringat sesuatu, aku mengambil ponselku lalu membuka laman web mencari berita yang sempat menghebohkan masyarakat beberapa hari terakhir.
    ‘Terungkap! Identitas asli penemuan WNI yang hilang di Singapura pada tahun 2006 silam.’ Ini dia, aku yakin ini ada sangkut pautnya dengan kematian Bu Marni. Aku bergegas mengambil album foto lama keluargaku. Aku terus mencari wajah yang sangat familiar di setiap album foto yang aku miliki. Dua puluh lima menit berlalu dan….’Ketemu!’ Aku berseru penuh semangat saat menemukan wajah yang aku cari selama ini. Wajah itu aku temukan di album foto dokumentasi kelahiranku. Foto seorang perempuan yang senyumnya merekah sedang menggendong seorang bayi perempuan yang baru saja lahir. Di bawah foto itu tertulis, 19 Agustus 1998, Aksara Rumi Kinanti dan Eyang.

Biodata Penulis :

Almira Nurhuwaida

Halo, Namaku Almira Nurhuwaida, orang-orang biasa memanggilku Mira. Aku lahir di Jakarta pada tanggal 13 Juli 2009. Kalau hobi? Aku tidak mempunyai hobi tetap, karena aku orang yang mudah bosan terhadap sesuatu. Tetapi ada 2 hal yang aku suka dan sering aku lakukan, yaitu membaca buku dan berenang, mungkin itu bisa dikategorikan sebagai hobi. Saat ini aku tinggal di Tangerang Selatan dan alamatku di Jalan Permai VI Blok AX 16/11, Pamulang Barat. Ini tahun terakhirku sekolah di MTsN 1 Tangerang Selatan dan cerita ini juga merupakan cerpen pertamaku, aku harap kalian menyukainya. Jika kalian ada kritik dan saran yang ingin disampaikan, ataupun sekedar berkenalan bisa kirim ke Email [email protected]

Burung Nuri burung Cenderawasih,
Di Papua Banyak Dijumpai,
Cukup sekian dan terima kasih,
Sampai Jumpa di lain kali.

Info
Penulis : Almira Nurhuwaida
Tanggal : 17 May 2024
Pembaharuan : 17 May 2024
Bagikan halaman ini
Tags