Pak Busro

108

Dilihat

Pagi ini, keluargaku pindah ke Bandung karena papa pindah tempat kerja. Hal yang sudah sangat biasa bagiku, karena sejak kecil aku sering kali pindah sekolah karena pekerjaan papa. Tetapi tetap saja aku merasa gugup dan takut. Karena aku harus bersekolah di tempat baru dengan lingkungan dan teman-teman yang berbeda.

Selama di Bandung ini, aku akan bersekolah di SMPN 11 Bandung. Bisa dibilang aku cukup pandai dalam bersoalisasi, mungkin karena sedari kecil selalu berpindah sekolah. Jarak rumahku jauh dengan sekolah, maka dari itu papa dan mama dari awal sudah berencana mencarikan ojek langganan untuk mengantar jemput. Dengan senang hati aku pun setuju. Dengan ojek langganan, aku bisa dengan mudah bepergian ke sekolah.

Papa dan mama mencari tukang ojek yang bersedia antar-jemput selama berhari-hari. Mereka sibuk bertanya dengan semua teman kantor dan tetangga sekitar rumah kami. Akhirnya mama menyerah mencarikan ojek langganan untukku, karena sekarang jarang sekali yang ingin menjadi tukang ojek. Jika adapun, menurut mama tukang ojek itu kurang sopan, tidak gesit, dan sebagainya yang sesuai dengan kriteria mama. Setelah seminggu papa bertanya sana-sini, akhirnya menemukan tukang ojek yang bersedia untuk mengantar jemput aku. Namanya Pak Busro. Teman kerja papa yang merekomendasikan beliau. Aku bertemu dengan Pak Busro, sehari sebelum sekolah. Beliau datang ke rumahku untuk berkenalan dengan keluargaku. Lelaki itu sudah tua, namun sepertinya baik dan sangat sabar. Pak Busro juga kelihatannya asik walaupun sudah tua. Menurut papa, Pak Busro juga gesit saat bekerja.

Pagi ini, hari pertama aku bersekolah di tempat baru. Aku melihat pantulanku di cermin. Baju sekolahku yang baru dengan bet nama yang bertuliskan Dinda Amelia terlihat rapi. Kurapikan kembali jilbabku.

“Dinda, Pak Busro udah di depan sayang….” seru mama memanggil.

“Siap, Maa….” jawabku dengan sama kerasnya.

Aku segera menyambar tas yang sudah kusiapkan dari semalam. Lalu aku keluar kamar dan memakai sepatuku yang berwarna full hitam sesuai aturan sekolah.

“Dinda sekolah dulu, Ma. Doain aku bisa dapat teman banyak, terus sekolah barunya juga nyaman,” pamitku pada mama.

“Iya anak mama yang paling cantik, hati-hati di jalan, ya.”

Setelah berpamitan, aku pun menuju gerbang rumah dan menghampiri ojek langgananku.

“Pagi Neng Dinda, udah siap?” sapa Pak Busro tersenyum.

“Udah dong, Pak. Lets go… ayu atuh kita kemon,” balasku tersenyum.

Pak Busro langsung menyalakan motornya. Kulambaikan tangan pada mama yang berada di teras rumah, memperhatikanku berangkat sekolah. Pak Busro berkendara dengan hati-hati. Dari rumah ke sekolah dibutuhkan waktu sekitar 35 menit, namun ketika macet bisa jadi 1 jam lebih. Jalanan yang aku lewati saat berangkat atau pulang sekolah merupakan jalan utama sehingga sehari-hari padat merayap. Banyak dilalui oleh orang yang bekerja maupun anak sekolah. Pagi ini jalanan sangat padat. Itulah sebabnya aku berangkat sangat pagi supaya tidak telat di hari pertamaku sekolah.

“Sabar ya, Neng. Jalan ini memang macet terus. Jam berapa Neng masuk? Semoga nanti tidak telat sampai sekolahnya.” Kata Pak Busro melihatku mengibaskan jilbab karena karbon monoksida yang dikeluarkan knalpot kendaraan yang membuat udara menjadi sesak dan panas.

“Jam tujuh, Pak. Sekarang baru jam 06.15, santai aja.” balasku agar Pak Busro tidak terburu -buru. Selama beberapa saat kami diam sambil menunggu kemacetan yang belum juga terurai. Akhirnya aku kembali mencairkan suasana dengan pertanyaan-pertanyaan untuk mencoba lebih dekat dengannya. Secara aku akan menghabiskan lumayan banyak waktu setiap harinya dengan beliau. Prinsipku, tak kenal maka tak sayang. Tapi bukan berarti kalau udah kenal terus jadi sayang, sih.

“Mmmmm…..Pak Busro asli sini?“ tanyaku basa-basi memecah suasana canggung.

“Bapak asli Jakarta Neng, tapi waktu masih SMP pindah ke sini, ikut om.”

“Oh, begitu Pak.” Kataku sok perhatian.

“Kalau anak sama istri tinggal di mana, Pak? Di sini atau di Jakarta?” tanyaku lagi dengan gaya wartawan profesional.

“Istri Bapak sudah dipanggil Allah 10 tahun yang lalu, kalau anak lagi kerja di Garut. Biasanya kalau ada uang lebih, Bapak ke Garut, jenguk aja sih, Neng. Kadang kalau lagi iseng, Bapak tanya sama anak, sudah punya calon belum? Tapi kalau ditanya, anak Bapak selalu marah karena katanya dia mau fokus mengurus bapaknya ini.” tutur Pak Busro panjang lebar sambil terkekeh.

“Duh Maaf, saya gak tau kalau istri bapak sudah tidak ada.” Aku berkata dengan perasaan bersalah karena telah menanyakan hal yang membuat Pak Busro terkenang kembali dengan mendiang istrinya. Aku tidak terlalu menyimak perkataan beliau tentang anaknya karena terlalu fokus dengan istri beliau yang sudah tiada.

“Gak apa-apa Neng. Bapak sudah ikhlas. Lagi pula, bukan salah siapa siapa. Ini sudah` takdir Yang Maha Kuasa.” jawab Pak Busro diiringi senyuman lembut yang terlihat dari spion motor.

Setelah itu, kami Kembali membisu. Aku takut salah bertanya lagi. Jadi selama sisa perjalanan, aku hanya menikmati jalanan yang padat.

Akhirnya, kami sampai di sekolah sekitar jam 06:40. Masih tersisa 20 menit sebelum bel masuk berbunyi. Aku memutuskan ke ruang guru yang entah di mana letaknya. Saat sedang kebingungan, seorang siswi menghampiriku.

“Hai, kamu anak baru ya? Soalnya wajah kamu asing, deh. Aku juga belum pernah lihat kamu.” Sapanya sembari menatap wajahku dengan saksama.

“Hai juga, Iya aku anak baru. Eh, kalo ruang guru ada di mana ya? Aku kebingungan dari tadi.” Tanyaku tersenyum sopan.

“Oh, ruang guru. Ayo aku anterin. Nanti malah nyasar kalau tak diantar, he he he.” Katanya tertawa.

“Eh, Gak papa nih? Tapi kalo kamu mau sih, boleh banget hehehe.” jawabku ikut tertawa.

„ Siip. Santai aja lagi.” Balasnya ceria sambil mengangkat jempolnya.

Kami berjalan beriringan sembari mengobrol dengan asyik. Dia memperkenalkan dirinya sembari menunjuk bet namanya. Terpampang jelas namanya Chelsea Artha Meydiva. Aku pun memperkenalkan diriku dengan cara yang serupa dengannya. Sepertinya dia baik dan terbuka dengan siapa saja. Kami tertawa bersama selama perjalanan ke ruang guru. Aku dan Chelsea mengobrol seperti sudah lama berteman, padahal kami bertemu baru beberapa menit yang lalu. Ini permulaan yang sangat baik di hari pertamaku. Kami pun tiba di ruang guru, Chelsea berkata kalau dia akan menunggu di luar ruangan, aku mengangguk.

Tok…Tok..Tok

Assalamu alaikum,

Aku membuka pintu perlahan dan melongok ke dalam. Seorang guru melihatku,

“Waalaikum salam. Cari siapa, Nak?”

Aku teringat perkataan mama kemarin. Ketika sampai di sekolah, aku harus mencari Pak Ahmad di ruang guru. Beliau yang akan menjadi wali kelasku. Pak Ahmad juga yang sudah mengurus kepindahanku di sekolah ini.

“Maaf, Bu. Saya mau bertemu Pak Ahmad.” Jawabku tersenyum sopan.

Ketika namanya kusebut, seorang laki-laki yang sedang membuat teh di pojok ruang guru menoleh.

“Oh, Dinda ya? Ayo sini masuk. Silakan duduk dulu, bapak sedang buat minuman.” Laki-laki yang kuperkirakan Pak Ahmad berkata.

Aku masuk dan duduk di kursi yang disediakan sesuai arahan Pak Amad. Setelah selesai membuat minuman, Pak Ahmad duduk di hadapanku. Beliau memperkenalkan namanya dan menjelaskan panjang lebar tentang peraturan sekolah. Pak Ahmad juga mengatakan bahwa aku akan berada di kelas 8.2. Selain itu beliau sekaligus memperkenalkan diriku pada teman-teman baru. Aku mengangguk dan keluar dari ruang guru ditemani Pak Ahmad. Di luar Chelsea masih menungguku dan ternyata kami sekelas. Kami senang sekali.

Kehidupanku di Bandung berjalan baik. Setiap pergi dan pulang sekolah bersama Pak Busro. Tak ada tugasku yang sulit. Begitu juga hubunganku dengan teman-teman baru. Aku dan Chelsea menjadi sahabat baik. Dia juga mengenal Pak Busro. Pak Busro beberapa kali mengobrol dengan Chelsea dengan seru. Aku dan Chelsea mengikuti ekskul Paskibra. Kami cukup dibuat sibuk dengan ekskul tersebut. Bahkan jika ada perlombaan, kami kerap pulang malam. Pak Busro dengan setia menjemputku.

Suatu hari, di tengah kesibukanku bersekolah dan persiapan mengikuti lomba, Pak Busro meminta cuti.

“Aduh Pak, Dinda lagi sibuk banget, loh. Pulang malam terus. Bapak kenapa malah minta cuti?” tanya mama kepada Pak Busro dengan nada bingung. Aku yang berada di ]sebelah mama pun menjadi ikut gelisah.

“Saya mau ke Garut, Bu. Sudah kangen dengan anak saya. Anak saya bilang kalau sudah punya calon dan mau ngenalin saya. Jadi saya mau minta cuti, Bu. Dua hari saja.” Jawab Pak Busro sedikit memelas.

Aku merasa kasihan dengan Pak Busro karena aku tau, dia sudah lama menunggu anaknya untuk menikah. Aku dan mama bertatapan. Aku yakin mama juga kasihan dengan pak Busro. Mama menghela napas panjang dan akhirnya mengabulkan permintaan cuti pak Busro. Toh, ketika berangkat aku bisa ikut papa walaupun aku harus bangun lebih pagi. Pulangnya aku bisa naik angkot.

Keseharianku makin sibuk karena lomba yang sudah di depan mata. Hari ini, hari ketiga setelah Pak Busro cuti kerja. Saat berangkat sekolah, aku diantar oleh papa. Pak Busro memberi kabar bahwa akan menjemputku saat pulang sekolah. Benar saja, malam itu saat aku pulang dan selesai latihan, Pak Busro sudah menunggu di depan gerbang. Tetapi ada yang aneh dengannya. Beliau hanya mengangguk- angguk saat aku menyapa, bahkan saat aku tanya, beliau hanya diam saja. Menurut perasaanku beliau sangat aneh malam ini.

“Assalamualaikum. Maa…. Dinda pulang.” Salamku saat sampai di rumah.

“Waalaikumsalam. Kamu pulang sama siapa, Din? Sepertinya mama denger suara motor barusan?” tanya mama saat aku menutup pintu rumah.

“Ya biasa Ma, sama pak Busro. Memang sama siapa lagi? Lagi pula hari ini memang udah selesai cutinya, kan?” Jawabku tenang.

“HAH??! AP-APA KAMU BILANG?” Jerit mama yang membuat aku terkejut.

“Ih, Mama kenapa teriak, sih? Bikin aku jantungan. Emang kenapa Ma? Kan udah biasa kalo aku pulang sama Pak Busro?” tanyaku kesal karena mama yang tiba tiba berteriak. Tetapi mama memelukku seketika.

“Kamu gapapakan sayang? Kamu gak baca chat dari mama ya, Nak?”

“Baterai Hp aku habis, Ma. Aku juga malas ngecharge. Emang ada apa sih, Ma? Sampai peluk-peluk begini.” kataku mendorong mama perlahan agar melonggarkan pelukannya.
Mama menghela napas panjang. Aku semakin penasaran dengan sikap mama.

“Dinda, sebenarnya Pak Busro itu sudah meninggal tadi siang saat sholat Dzuhur berjamaah bersama anaknya.” Kata mama lirih sambil menatapku.

“APA MAH? JADI TAD-TADI AKU PU-PULANG SAMA SIAPA?” pekikku saat mendengar penuturan mama bahwa Pak Busro telah berpulang siang tadi. Keringat dingin membanjiri tubuhku. Kakiku lemas tiba-tiba. Mama memeluk tubuhku dan membawanya ke sofa. Aku duduk sambil memeluk mama dengan tubuh gemetar. Ia menenangkanku sambil bercerita tentang musibah yang menimpa Pak Busro. Antara mimpi dan nyata, aku mendengarkan cerita mama sambil terus menangis.

Malam itu, papa sedang dinas keluar kota. Aku dan mama memutuskan untuk tidur berdua. Kami saling berpelukan di tempat tidur mama yang luas. Mama sudah terlelap sejak tadi sedangkan aku masih memikirkan hal yang sangat janggal tadi. Aku memaksakan untuk tidur karena bagaimanapun besok harus sekolah.

Esok paginya aku berangkat ke sekolah naik angkot. Raut wajah mama tergambar kecemasan dan kekhawatiran, tetapi aku meyakinkan mama bahwa aku akan baik-baik saja. Dia akhirnya membiarkanku pergi. Sampai di sekolah, aku menyampaikan kejadian pulang sekolah kemarin pada Chelsea. Dia sangat terkejut dan berteriak karena terlalu kaget. Teriakannya mengejutkan anak-anak yang berada di kelas. Mereka semua menengok ke arah aku dan Chelsea. Dari kejadian ini, aku hanya berharap bahwa Pak Busro diterima di sisi Yang Maha Kuasa. Beliau sangat baik, jujur, dan amanah. Semoga keluarganya diberikan ketabahan atas berpulangnya beliau. Aamiin.

Penulis : Salsabila Nayla Ramadhani
Editor : Eti Muhamad, M.Pd

Info
Penulis :
Tanggal : 31 January 2023
Pembaharuan : 31 January 2023
Bagikan halaman ini
Tags