Jagalah Bumi !

181

Dilihat

Kita akan pulang dan ditanya,
“Seperti apa interaksi kita dengan Al-Quran?”
Demikian ucapan seorang ustaz di sebuah kajian.

Tiap hari Rabu di MTsN 1 Kota Tangerang Selatan, diberi sajian menu sarapan pagi sejak pukul 07.00-07.30, yakni PEMBIASAAN TILAWAH bersama siswa di bawah pemandu beberapa petugas utusan kelas yang diroling secara bergilir. Gelaran TILAWAH ini merupakan bagian dari program hidden kurikulum yang diharapkan semua civitas akademik madrasah dapat menikmatinya berjamaah. Rasa syukur yang dalam kepada Tim MGMP AGAMA MTsN 1 Kota Tangsel telah mengajak dan memberi kesempatan mengawali aktivitas sebelum bersibuk-ria dengan kapasitas masing-masing.
Ada yang menarik dari ayat Al-Quran yang dibacakan. Kenapa yang menjadi objek tilawah adalah pengulangan ayat serupa dengan hari RABU yang lalu? Batasan ayat yang dimaksud adalah Q.S. Al-A'râf/ 7 : 41-58. Tentu bukan tanpa maksud adanya resitasi ayat ini. Teks ayat tersebut sungguh mempesona, yakni menurut ilmu Bahasa Arab ‘huruf la sebagai fi’il nahi bermakna: ‘jangan dilakukan’. Maka, terkait hal itu dijelaskan di dalamnya tentang larangan Allah jangan merusak alam.

Pesan ini sangat kontekstual dengan madrasah yang sedang menjalankan rangkaian program Adiwiyata. Yang menjadi titik tekan dari paparan ini berada di posisi ayat ke-56 Q.S. Al-A'raf. Ayat tersebut berbunyi: “wa lâ tufsidu fil’ardi ba’da islâhihâ wad’uhu khaufan wa thama’an inna rahmatallâhi qaribun minah muhsinin.”

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik! Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya Rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.”
Melalui ayat tersebut, Allah melarang manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Larangan membuat kerusakan ini mencakup semua bidang, seperti merusak pergaulan, jasmani dan rohani orang lain, kehidupan dan sumber-sumber penghidupan (pertanian, perdagangan, dan lain-lain), merusak lingkungan dan lain sebagainya. Bumi ini sudah diciptakan Allah dengan segala kelengkapannya, seperti gunung, lembah, sungai, lautan, daratan, hutan dan lain-lain, yang semuanya ditujukan untuk keperluan manusia, agar dapat diolah dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan mereka.

Oleh karena itu, manusia dilarang membuat kerusakan di muka bumi. Pengingat dari ayat ini menjadi penguat bahwa dengan selalu berusaha menjaga dan menyayangi lingkungan, maka kita sudah berikhtiar dalam berbuat kebaikan. Demikian ayat tersebut mempromosikan supaya semua kita dapat mempertahankan lingkungan selalu bersih, nyaman, bebas polusi dan lainnya hingga terwujud karakter Gerakan Satu Meter Bersih (SAMBER).
Dengan langkah ini mudah-mudahan kita dikatagorikan ke dalam golongan orang yang mendapat rahmat-Nya (wa adkhilnâ fi rohmatika...), disebabkan perantara (berbuat kebaikan) dengan senantiasa mohon dipertahankan dengan mengamalkan fastabiqu alkhoirât. Lebih dari itu sejatinya bersabar juga agar menjadi bagian dari orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan (sâbiqun bi alkhoirât) sebagaimana tertera dalam Q.S. Fâthir/35: 32.
Memenuhi seruan menuju taman Al-Quran merupakan kebaikan juga. Dalam kebaikan terdapat pelajaran. Di antara yang terkandung dalam konteks surah di atas, mari kita menyayangi bumi semestinya sebagai tempat manusia berkehidupan.
Di balik kebaikan lain terdapat bentuk perniagaan dengan Allah yang mendatangkan keuntungan serta kebahagiaan. Karenanya the best moment ini perlu dipromosikan agar semakin banyak yang dapat meraih nilai manfaat, terutama sisi spiritual senantiasa terhangatkan bahkan menjadi lebih matang. Allâhu a’lam.

 

Penulis   : Siti Bahriah, M.A

Editor      : Admin

Info
Penulis : Hj. Siti Bahriah, M.A
Tanggal : 22 May 2024
Pembaharuan : 23 May 2024
Bagikan halaman ini
Tags