Di Balik Cahaya Terang

189

Dilihat

Sinar terang dari lampu-lampu taman perlahan meredup seakan mengalami kerusakan. Jalan di depanku yang semula terang memancarkan keindahan kini remang-remang. Kegelapan yang sunyi , tenang , dan damai. Semilir angin malam terasa berhembus menusuk kulit dari Utara ke Selatan dari titik aku berpijak.

Aku yang semula berjalan tenang merasakan kesenangan yang mengharubirukan perasaan. Seakan berubah menjadi kunang-kunang, rasaku mulai terbang melayang. Kerumunan manusia yang sedang menikmati malam seakan hilang dari tatapan. Sekelilingku menjadi senyap, hanya keindahan dalam sunyi yang kurasakan.

Tatapan mataku seakan tertarik ke atas langit nan luas dan hanya berisi senyap. Entah hati atau pikirankah yang menggerakkanku untuk hanya menolehkan kepala ke atas langit. Mataku hanya terjerat pada satu titik di atas sana. Hatiku terkagum dan pikiranku mengelana. Pandangan mataku tertuju pada satu titik di mana bulan di atas sana memancarkan sinarnya dengan sempurna.

Perlahan langkahku berpindah dari titik semula aku berdiri dengan tatapan tetap kepada sang dewi malam yang seakan terus mengikutiku. Siap mengawal kemana pun kaki ini melangkah.

Tapi ini bukan tentang malam yang gelap dalam sekejap dan bukan juga tentang Bumantara yang terlukis di bayangku
Ini tentang kisah ku di planet ini.

Semua yang kulakukan dan yang ku rasakan memberikan rasa nyaman. Aku hanyalah seorang anak kecil yang ingin merasakan kebebasan. Entah apa yang dipikirkan orang tentang diriku, aku tidak perdulia.

Dalam waktu yang cukup singkat kini aku merasakan berbagai hal berbeda dari sebelumnya. Terkadang aku memikirkan berbagai hal yang membuatku gamang. Apa yang mereka pikirkan tentang diriku yang sering berbuat seenaknya hanya karena aku ingin bebas sejenak memenjarakan logika.

Dan dari pemikiran yang hanya terkadang menjadi sering dan selalu aku pikirkan setiap waktu. Yah, overthinking memang. Itu yang membuat pikiranku mengelana. Tentang apa tanggapan mereka akan sifatku. Berpuluh bahkan beribu kali aku memikirkan hal itu. Menyesatkan pikiranku yang seakan buntu. Lalu pada akhirnya aku memikirkan bagaimana aku bisa membuktikan pada mereka. Membuat mereka melihat keberadaanku. Memberikan penilaian positif tentangku. Aku terus berpikir untuk memberikan pembuktian. Menemukan cara untuk mengubah pandangan mereka kepadaku.

Mengukir prestasi! Ya, cara itulah yang akan kupakai. Aku ingin mereka bangga bukan? Memiliki teman yang berprestasi. Sayangnya hal yang aku bayangkan berbanding terbalik dengan kenyataan.

Kini seiring berjalannya waktu, prestasiku mulai meningkat. Tapi entah mengapa orang- orang banyak mengangap aku sebagai musuh. Mereka yang dulu datang mengajakku bermain saat bel istirahat berbunyi kini menjauh. Bahkan menjadi sekelompok musuh yang datang untuk mengancam saat bel istirahat berbunyi. Ya, jam istirahat bukan lagi waktu yang paling kunanti, tapi menjadi waktu yang paling kubenci. Cibiran dan cemooh terus menghantamku dari belakang. Kata-kata menyakitkan dengan sinis ditebarkan. Kata sindiran si paling percaya diri, sok paling berani , caper seringkali terucap dari bibir julid mereka. Dan entah mengapa pada titik ini membuatku ingin berhenti sejenak. Aku lelah tentu. Saat orang terdekat yang selama ini sealu memberikan dorongan dan suport mulai menjauh. Seringkali aku bertanya pada diriku, apa salahku? Salahkah jika aku ingin berubah menjadi lebih baik? Bukankan kita harus menata diri? Bukankan sekolah ini seharusnya menempa kita untuk berubah menjadi lebih maju seiring waktu berjalan? Ah, entahlah.

Satu kalimat yang membuat aku tersadarkan dari titik itu, KAMU HANYA SAMPAH. Ya, itu memang menyadarkanku. Aku sadar diri dengan siapa aku. Tetapi tidak bolehkah aku berubah menjadi lebih baik? Bukankah sampah pun bisa menjadi barang berharga dan bermanfaat setelah di daur ulang?
Ya, aku ingin menajadi sampah yang telah didaur ulang. Menjadi berguna setelah tak dianggap keberadaannya. Aku sedang berusaha untuk menjadi sampah yang bernilai setelah di daur ulang. Menjadi bermanfaat dan berharga untuk orang orang sekitarku.
Hiii… lihatlah, a ini aku yang sekarang. Sampah daur ulang yang kini lebih bermanfaat dari pada sebelumnya. Yaa, aku merasa kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Berubah dan terus berubah. Daur ulang akan sifat kekanakan dan ketidakpedulianku kini berubah seiring waktu. Dan aku hanya ingin berkata padamu.

“Hey, lihatlah sampah ini. Aku tak lagi merusak lingkungan seperti dulu. Kini aku lebih bermanfaat dan karenanya aku merasa dihargai. Aku ingin mengajakmu. Tapi kalau menolak ajakanku, tak apalah. Aku hanya berharap dan berdoa jika kelak kau pun akan mengikuti jejakku.
Terimakasih untuk mereka yang sudah mendaur ulang kehidupanku. Membuatku menjadi lebih baik dari sebelumnya. Cibiran kalian yang mengaku pernah menjadi sahabatku sangat bermanfaat bagiku. Bagaimanapun jika kalian tidak ada di hidupku, aku bukanlah siapa-siapa. Dan aku aku tidak akan menjadi sampah ayng di daur ulang.

Kita ibarat pohon dan mereka adalah pupuk. Walaupun pupuk itu bau dan kotor, itu yang membuat pohon itu dapat tumbuh dan berkembang dengan subur sehingga menghasilkan buah yang manis.

Info
Penulis : Keisya Putri Dion
Tanggal : 07 May 2024
Pembaharuan : 07 May 2024
Bagikan halaman ini
Tags